Wawasan Polewali – Situasi sempat memanas di Kecamatan Tutar (Tubbi Taramanu), Kabupaten Polewali Mandar (Polman), setelah beredar sebuah unggahan di media sosial Facebook yang dianggap menyinggung kelompok warga tertentu. Postingan tersebut hampir memicu pertikaian antarwarga sebelum aparat kepolisian turun tangan untuk menenangkan situasi.
Unggahan Bernada Provokatif
Kejadian bermula pada Selasa malam (15/10), ketika sebuah akun media sosial mengunggah tulisan yang mengandung kata-kata sindiran terhadap kelompok masyarakat di salah satu dusun di Tutar. Dalam hitungan jam, postingan itu menyebar luas dan menimbulkan reaksi keras dari pengguna lain.
Beberapa warga yang merasa tersinggung dikabarkan sempat mendatangi rumah pemilik akun untuk meminta klarifikasi. Suasana pun mulai memanas hingga nyaris terjadi bentrok antarwarga yang berbeda dusun.
“Awalnya hanya saling komentar di Facebook, tapi kemudian berkembang jadi perdebatan di dunia nyata. Untung saja aparat cepat datang,” ujar Hasbi, warga setempat yang menyaksikan kejadian tersebut.
Polisi Bertindak Cepat
Mendapat laporan adanya potensi kericuhan, aparat Polsek Tutar bersama Babinsa dan tokoh masyarakat segera turun ke lokasi. Mereka melakukan mediasi langsung antara kedua pihak yang terlibat untuk meredam emosi dan mencegah konflik meluas.
Kapolsek Tutar, IPTU Muh. Arif, membenarkan adanya kejadian tersebut dan memastikan bahwa situasi kini sudah kondusif.
“Kami langsung mengambil langkah preventif dengan memanggil pihak yang bersangkutan dan melakukan mediasi. Semua sepakat menyelesaikan secara kekeluargaan dan tidak memperpanjang masalah,” ujarnya.
Menurutnya, postingan yang bersifat provokatif di media sosial bisa menjadi pemicu konflik sosial jika tidak segera ditangani. Karena itu, pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar bijak dalam bermedia sosial dan tidak mudah terpancing emosi oleh informasi yang belum tentu benar.
Permintaan Maaf dan Klarifikasi
Pemilik akun yang memposting tulisan tersebut akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, baik melalui pertemuan di kantor desa maupun lewat akun media sosialnya. Ia mengaku tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun dan menyebut postingannya hanyalah bentuk ekspresi pribadi yang disalahartikan.
“Saya minta maaf kepada seluruh warga Tutar, terutama yang merasa tersinggung. Saya tidak bermaksud memprovokasi atau membuat keributan,” tulisnya dalam unggahan klarifikasi.
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Mediasi-antar-warga-bertikai.jpg)
Baca juga: Puluhan Jurnalis Tergabung PENA Sulbar Lapor ke BK DPRD Polman, Tegakkan Kode Etik Anggota
Tokoh masyarakat Tutar, H. Arman, mengapresiasi langkah cepat aparat dan kesediaan kedua pihak untuk berdamai. Ia menilai kejadian ini menjadi pelajaran penting agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial.
“Sekarang zaman digital, satu kata di media sosial bisa menimbulkan masalah besar. Kita harus bisa menahan diri dan berpikir sebelum menulis,” tegasnya.
Imbauan Bijak Bermedia Sosial
Kapolsek Tutar kembali menegaskan komitmen pihaknya dalam menjaga keamanan wilayah, terutama menghadapi tantangan baru di era digital. Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah menyebarkan postingan yang mengandung unsur SARA, kebencian, atau fitnah.
“Kami tidak akan segan menindak tegas jika ada pihak yang dengan sengaja memprovokasi atau menyebarkan ujaran kebencian di media sosial,” kata IPTU Arif.
Selain itu, pemerintah kecamatan juga berencana mengadakan sosialisasi literasi digital bagi masyarakat desa, terutama generasi muda, agar mereka lebih memahami etika berinternet dan dampak hukum dari aktivitas daring.
Situasi Berangsur Kondusif
Hingga Rabu (16/10) pagi, situasi di Kecamatan Tutar telah kembali aman dan terkendali. Aktivitas warga berjalan normal, sementara aparat kepolisian tetap melakukan patroli rutin untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keharmonisan antarwarga harus dijaga, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Sebab, satu postingan bernada menyinggung dapat dengan cepat membakar emosi dan merusak persaudaraan yang telah lama terjalin.





